Bens Leo: Musik Indie Jogja Harus Berkarakter

Bens Leo begitu memuji keberadaan pelaku musik independen (indie) di Yogyakarta yang guyub dan rukun satu sama lain termasuk dengan band Jogja yang sudah berhasil dan terkenal tapi tetap mau membantu band-band indie yang ingin berkarya.


Berikut hasil wawancara Jogjanews.com dengan pengamat musik nasional ini usai menjadi salah satu nara sumber acara Dialog Budaya dan Gelar Seni “Yogya Semesta” Bangsal Kepatihan Komplek Kantor Gubernur DIY, Rabu (23/3).

Band indie di Jogja sangat banyak mereka guyub beda dengan Jakarta bagaimana mereka harus berkembang di masa depan?

Saya selalu mendorong teman-teman independen, kebetulan ini tidak diskusi pertama saya di Jogja saya beberapa kali menjadi juri disini kemudian beberapa kali diskusi musik di Jogja bersama- teman-teman inied bahkan pernah diusir penjaga warung lesehan karena ngobrol sampai jam 3 soal musik indie sama teman-teman (musik) indie Jogja.

Musisi Jogjakarta militansinya luar biasa sekali, mereka guyub bahkan secara ekstrim kalau ngga mau membuat video kadang-kadang mereka bisa meminjam studio dengan cara patungan nanti saya bayar belakangan ya yang penting CD-nya bisa jalan nanti saya bayar belakangan dan itu hanya  ada di Jogja. Jakarta tidak bisa seperti itu karena saking guyubnya.

Kemudian orang yang sukses di Jogja itu selalu memberi ruang pada musisi yang belum mapan untuk menyewa tempat nya tanpa membayar lebih dulu. Contohnya adalah teman-temen dari Sheila on 7, Eros Candra, karena mereka sudah memiliki home studio sendiri, studio rumah diberikan peluang musisi indie untuk rekaman. Saya  kira keguyuban itu yang luar biasa.

Yang kedua yang tidak kalah penting adalah heterogenitas Yogyakarta ini meyebabkan begitu berwarnanya musik Jogja. Saya kira seluruh Indonesia musik yang paling karya warna hanya di Jogjakarta.

Karena itulah disini tempatnya untuk berkarya, apakah itu masuk ke indie atau ke  major itu sama saja. Sebab kalau masuk ke major ngga dijual secara bagus ngga ada promosinya maka sama aja mendingan kita indie, gagah berani gitu kan.

Banyak sekali orang yang keluar dari label besar, Gigi keluar dari Sony, kemudian para penyanyi itu keluar dari perusahaan besar karena mereka punya masalah dengan tidak diapresiasinya karya-karya mereka dalam bentuk promosi yang bagus padahal itu perusahaan rekaman internasional, itulah yang menyebabkan kita prihatin.

Ini cukup di guyub rukun-nya atau bagaimana ?

Saya kira guyub rukun itu ekspresi kemungkinan karya mereka bisa diapresiasi masyarakat luas jadi kalau tidak guyub ngga punya kesempatan rekaman dulu bayar belakangan itu mereka tidak bisa mempublikasikan karya atau mempresentasikan karyanya dalam bentuk audio atau rekaman.

Lagunya kalau hanya mereka perform tanpa ada fisik maka mereka bisa dibajak orang. Jadi orang manggung itu tiba-tiba karena belum punya rekaman bisa dibajak orang lagunya, diganti lirik, segala macam itu yang paling rawan kalau kita tidak punya rekaman secara fisik.

Sisi komersial ini juga harus diperhatikan, posisinya gimana?

Saya kira musik yang sukses itu musik yang punya karakter jadi kalau kita tidak punya karakter yang kuat, sebagus apapun karya itu dia dianggap pengekor sama yang lain dia tidak akan sukses. Contohnya disini ada Endang Soekamti misalnya itu kan sebetulnya lagu-lagunya punk, model punk seperti itu tapi karena mereka punya karakter maka jualan mereka itu masih bisa laku 25 juta sekali manggung. Ini saya kira satu contoh betapa pentingnya karakter itu tapi kalau dia tidak punya karakter maka tidak ada yang akan mengenal.

Intinya di karakter itu?

Iya di karakter  dan Jogjakarta memiliki banyak sekali (band-band berkarakter), dalam banyak kompetisi, Jogja selalu masuh hitungan.  Itu kan bentuk bagaimana teman-teman Jogja memiliki kekuatan, guyubnya jadi luar biasa, dengan demikian mereka bisa berbarengan untuk mengapresiasi musik dengan bentuk apapun juga.

Saya titip pesan satu saja untuk musisi Jogja. Yogyakarta  pusat eksplorasi musik, saya sering diundang sama rekan di Jogja,  mas Njaduk Ferianto mas Emha Ainun Najib, saya agak kaget ada lagu Padang Bulan waktu itu beliau (Emha Ainun Najib) bercerita kelompok koornya itu ibu-ibu  dari pasar Beringharjo jadi ibu-bibu itu diajari untuk bernyanyi dengan baik bisa mendapatkan koor.

Kemudian dengan mas Njaduk  Ferianto dengan musik-musik gabungan diatonik barat maupun pentatonik Indonesia itu sangat luar biasa sehingga karakter itu kita temukan di Yogyakarta ini yang fenomena paling menarik di Jogja mungkin karena heterogenitas masyarakat itu sendiri. (Jogjanews.com/joe)


Sumber : http://jogjanews.com